Halaman

Rush Hour

Pasti kita pernah mengalami saat ‘rush hour’ atau jam – jam orang sibuk ,ketika pagi hari sekitar jam 07.00 – 09.00 waktu orang – orang berduyun duyun berangkat kerja atau ke sekolah.Jalan raya menjadi sangat padat dengan rombongan orang-orang dengan tujuannya masing-masing. Salah satu dari orang-orang itu adalah kita sendiri. Coba rasakan aura suasananya seperti sibuk,serba cepat,sradak sruduk,maksa sana maksa sini. Coba kita rasakan semangat ribuan orang-orang tersebut di pagi hari,seolah olah menarik kita juga untuk berlomba-lomba bersemangat,menjadikanya satu energy yang dahsyat demi satu tujuan,seolah-olah kita memiliki dukungan energy yang sangat besar yang menjadikannya tenaga untuk kita gunakan di tempat kerja. Saya gunakan energy positif yang besar ini untuk melakukan pekerjaan di kantor,terasa lebih bersemangat,lebih berani,gesit dan tidak sabar untuk segera menyelesaikan suatu pekerjaan.

Begitu pula saat ‘rush hour’ sore hari,yang terasa adalah rasa puas telah mengerjakan beberapa hal di kantor atau tempat kerja. Coba lihat disekitar kita saat perjalanan pulang,semuanya terasa kembali aura energy kepuasaan tersebut,makanya saya selalu ingin ikut dalam rombongan pulang kerja tersebut,it feel awesome walupun macet macetan.Dari pada bt karena macet lebih baik berpikiran positif dan menyamakan semangat berjuang dengan ribuan orang yang lalu lalang saat ‘rush hour’.

Modal awal usaha

Dalam berusaha yang menjadi pikiran pada kebanyakan orang adalah faktor modal yaitu bisa berupa uang untuk modal awal,sering kita mendengar ‘ah..saya kan ga punya modal sebesar itu’. Pemikiran ini lah yang selalu menghambat kita untuk melakukan usaha.Padahal dengan modal kita tidak punya proyek pun sama pusingnya,punya modal kita tidak punya skill pun sama juga pusingnya,belum lagi masalah SDM,market dan sebagainya. Awalnya saya penasaran dengan orang yang usaha katanya tanpa modal,modal utamanya adalah dia mengerti cara mengerjakannya,dia paham alur yang harus dikerjakan dari A sampai Z.Bagaiman mungkin? Tetap saja nantinya kita memerlukan modal uang untuk awalnya bukan? Tempat usaha,perlengkapan,bahan dasar dsb.

Setelah saya coba telusuri ternyata kebutuhan tersebut bias kita penuhi, tetapi dengan cara bertahap,bukan uangnya yang datang bertahap,tetapi tiap bagian yang kita kerjakan ternyata terpenuhi sedikit demi sedikit,misalnya : kita cari dulu proyeknya,dan kita yakinkan bahwa kita bisa melakukannya,jangan dulu berpikir modal ya.Lalu syarat – syaratnya,seperti ijin atau legalitasnya,ini bisa kita lakukan seperti kita buat KTP atau SIM dan biaya relative murah.Tempat usaha kita bisa gunakan ruang kecil saja seperti mungkin kos – kosan yang bisa kita bayar per bulan.SDM kita bisa mengajak teman atau orang yang kita bisa gaji secara harian,ini pun biaya relative murah.Setelah itu baru kita mencari backup modal produksi,selama kita punya proyek yakinkan diri kita bahwa ada saja orang yang punya dana untuk membiayai nya sepanjang kompensasi yang diberikan lebih besar dari bunga bank.Karena investor ini akan langsung membandingkan dengan bunga bank, saran saya di 3% dalam 1 bulan sudah menarik bagi investor,lakukan kerjasamanya jangka waktu pendek dahulu.Saat proyek selesai dan kita mendapatkan bayaran kita bisa langsung selesaikan segala pembayarannya.Ingat berapapun keuntungannya itu adalah awal yang baik.Proyek berikutnya lah yang akan memberikan keuntungan lebih besar karena kita tidak perlu mengeluarkan modal awal lebih besar.

Jika kita melihat secara global memang nampak sulit dan mahal,yang penting action dulu sambil memecahkan masalah bagian demi bagian yang akhirnya semuanya terpenuhi,sedikit demi sedikit akhirnya jadi bukit.Panjang memang sih..tapi kita harus percaya dengan proses,hasil terbaik adalah proses terbaik.

Jika repot segera delegasikan


Aktivitas yang padat atau segala sesuatunya kita kerjakan sendiri akan menyebabkan kita kehabisan tenaga,lelah pikiran dan tidak optimal.Yang berakibat kinerja kita menurun,pekerjaan jauh dari beres bahkan tidak memuaskan.Hal ini yang bisa tidak kita sadari, karena kita tidak bisa menyerahkan seluruh pekerjaan kepada orang lain atau kurang yakin jika dikerjakan oleh orang lain.
Cara menghindarkan kasus ini adalah kembali ke rencana semula dan lihat hasil akhir yang diinginkan, lalu tunjuklah satu orang yang kompeten untuk mengerjakannya.Bekali orang tersebut dengan brief yang jelas,kupas tuntas hingga orang kepercayaan anda benar benar memahami apa yang akan dia kerjakan. Dan juga jelaskan kompensasi yang dia dapat jika berhasil menengerjakannya.Pendelegasian ini memang membuat kita deg degan,tapi kalo kita ingin maju dan usaha kita berkembang inilah salah satu caranya,karena kita tidak dapat mengerjakan semuanya dalam satu waktu.Feel sedikit nekat diperlukan, juga insting kuat bahwa orang yang kita tunjuk tersebut bisa bekerja sesuai yang kita inginkan. Rambu -rambu pun segera pasang,deathline dan evaluasi pada waktu waktu tertentu akan menjaga usaha kita yang dijalankan orang lain tetap pada alur yang kita inginkan.Jika berhasil,brarti kita telah menciptakan menteri di usaha kita yang dapat bergerak maju sesuai keinginan kita.